Oleh: Galih Pramuditho
Menonton film adalah hal personal bagi saya, sejak SMA, setelah pulang sekolah pada hari Jum’at, saya membawa motor saya ke bioskop terdekat dan menonton film yang sedang diputar. Kegiatan ini tentu dilakukan sendirian, ada keintiman yang kuat ketika sendirian dalam layar gelap, serasa berkomunikasi dengan layar proyektor, seperti sebuah hubungan yang intens, terasa dekat dan intim. Walaupun sesekali saya datang ke sebuah pemutaran alternatif di sebuah gedung atau kafe, bertukar gagasan dan cerita ke penonton yang lain saat sesi diskusi, entah kenapa perasaan bahwa menonton film adalah hal yang personal selalu melekat.
Mungkin karena dibesarkan di lanskap urban perkotaan, saya selalu menganggap bahwa menonton film ke bioskop adalah hal yang sekadar transaksional. Saya membayar tiket untuk film yang saya suka, dan pihak bioskop mendapatkan keuntungan dari uang tiket saya. Saya senang karena menonton film yang saya suka, pihak bioskop pun senang karena uang masuk di arus kasnya. Mungkin hal ini yang memunculkan perasaan menonton film adalah hal personal bagi saya.
Pada bulan Juli 2024 yang lalu, saya diundang menjadi pembicara lokakarya di perhelatan Gerilayar Sinema Memang Unik yang diadakan oleh komunitas Forum Studi RT05. Sinema Memang Unik adalah pergelaran pemutaran film, pameran arsip pada 6 titik di Payakumbuh dan sekitarnya. Acara ini dihelat pada rentang bulan Juni-Juli 2024. Saya berkesempatan untuk datang pada penghujung acara, tepatnya di daerah Kototuo Limokampuang. Saya menempuh perjalanan malam dari Pekanbaru bersama beberapa teman dari Komunitas film, dan tiba di Payakumbuh pada Sabtu dini hari. Saya tiba saat teman-teman Forum Studi RT05 sedang mempersiapkan pemutaran pada malamnya.









Besoknya, sebelum jam makan siang, diadakan sebuah kegiatan masak-masak bersama warga. Setiap partisipan acara membaur bersama warga dalam mempersiapkan masakan. Saya berkesempatan ikut dengan beberapa warga, yang mayoritasnya adalah ibu-ibu untuk masak dan meracik bumbu bersama. Kegiatan masak ini dilakukan dengan cara yang cukup tradisional, menggunakan tungku api, alas cobekan dari batok kelapa, dan bahan-bahan yang didapatkan dari ladang dan sawah sekitar. Kelompok saya meracik sambal ikan asin maco, unyang, dan juga sambal telur rebus. Kegiatan ini adalah kesempatan saya untuk mengenal lebih dekat dengan masyarakat sekitar, yang di mana adalah hal yang cukup asing bagi saya. Ini adalah pertama kali saya meracik unyang, sedikit mirip dengan urap, tapi bahannya lebih mentah dan diberi sentuhan masam dari jeruk nipis.






Setelah acara memasak, malamnya dilanjutkan dengan pemutaran film. Tempat pemutaran film diadakan dekat dengan rumah saya menginap, sebuah lapangan, kemungkinan lapangan serbaguna yang sering digunakan oleh masyarakat untuk bermain sepak bola. Pada petang, layar proyektor mulai dibentangkan, tenda-tenda didirikan, dan angin menghembuskan flyer acara yang sudah didirikan dari tadi siang. Sekitar jam 20.00 WIB, setelah ibadah Isya, acara dimulai. Tempat duduk disediakan pada dua tempat, pada kursi plastik dan sebuah karpet. Hadirin yang datang dari berbagai latar belakang, namun mayoritasnya adalah warga sekitar. Para warga memilih untuk duduk lesehan, menyimpul kakinya sambil menonton layar sedang disiapkan untuk film pertama. Sedangkan hadirin yang lain datang dari komunitas film dan pegiat kebudayaan dari Payakumbuh, Padang Panjang, Pekanbaru dan beberapa daerah lainnya.



Film dibuka dengan Bagurau (2017, Yuditia Leo Andika), sebuah film pendek dari komunitas film dari Sumatera Barat. Menceritakan mengenai perjuangan perempuan tukang dendang, seorang penyanyi penghibur. Film fokus pada kultur patriarkis yang terjadi di masyrakat. Walaupun isu tema film mengangkat topik yang cukup serius, para penonton, yang rata-rata adalah warga sekitar ikut terhibur dengan tertawa pada beberapa bagian di film. Rasa terhibur ini mungkin karena film memilih latar yang familiar dengan warga, sehingga warga pun ikut terhubung dengannya.
Film kedua adalah Intel Frengky (2024, Tukiang) yang merupakan produksi dari Forum RT05. Keterlibatan tim produksi dari film ini mayoritas berasal dari warga sekitar. Sutradaranya adalah Tukiang, seorang mahasiswa film ISBI Bandung yang merupakan warga asli dari Limokampuang. Intel Frengky adalah film tentang keseharian muda-mudi di sana yang diselipkan unsur komedi. Para warga nampak sangat terhibur dan puas menonton film tersebut, mungkin karena cukup familiar dengan wajah yang ada di sana, di mana mereka juga adalah tetangga/karib yang berproduksi pada film tersebut. Setelah menonton, dilanjutkan dengan diskusi mengenai komunitas film.
Saya memiliki kesempatan untuk menjadi pembicara pada sesi diskusi tersebut. Sesi diskusi fokus pada bagaimana pengembangan komunitas film. Sang moderator, Abi (yang juga rumahnya saya tumpangi) mengawali pertanyaan mengenai bagaimana pertama kali saya berkecimpung di komunitas dan merintis Mania Cinema.






Besoknya, sekitar jam 10 Pagi, saya mengisi lokakarya bersama Albert Rahman Putra, seorang pendiri dan penggagas kolektif Gubuak Kopi dari Solok. Albert menempuh perjalanan sekitar 1-2 Jam dari Solok menggunakan sepeda motornya. Sebelum lokakarya dimulai, saya sempat mengobrol dengan Albert terkait perkembangan Gubuak Kopi dan bagaimana antara medium seni, kolektif, dan masyarakat saling menyatu satu sama lain dan membuat ekosistem yang utuh. Lokakarya diadakan pada sebuah kedai kopi, bersebelahan dengan rumah tempat saya menumpang menginap.



Albert membuka sesi pertama lokakarya. Ia membahas mengenai intertekstualitas antara kolektif, seni dan juga masyarakat; membahas bagaimana seni dan mediumnya menyesuaikan dan masuk ke dalam masyarakat, bukan masyarakat yang menyesuaikan dengan seni. Bagaimana Gubuak Kopi, sebagai salah satu kolektif yang cukup berkelanjutan melakukan operasinya dan melakukan siasat untuk tetap bertahan hidup. Setelah lokakarya, dibuka pula sesi diskusi, beberapa partisipan bertanya mengenai bagaimana kolektif merespon terhadap intervensi kepala desa atau tetua kampung dalam mengintegrasikan antara medium seni dan masyarakat. Albert menjelaskan bahwasannya prinsipnya hanya satu, bagaimana seniman atau pengkarya menyesuaikan seninya dalam konteks keseharian masyarakat. Sesi pertama selesai pada pukul 12.00, dilanjutkan dengan makan siang bersama.



Sesi kedua adalah sesi saya. Diadakan pada pukul 14.00, di mana mata mulai mengantuk dan meminta untuk tidur. Namun, semangat saya naik ketika saya menjelaskan mengenai materi ulasan film melalui sosial media, para partisipan nampak tertarik dengan apa yang saya jelaskan. Pada sesi pertama, Albert kebanyakan menggunakan bahasa Minang untuk menyesuaikan partisipan yang lebih fasih dengan bahasa Minang, saya mencoba mengikuti metode Albert juga. Karena tidak fasih berbicara dengan bahasa Minang, teman saya, Mohammad Irvan mengikutsertakan partisipan dengan membacakan beberapa ulasan di Mania Cinema dengan bahasa Minang. Hal ini membuat situasi lebih cair dan fluid. Setelah Lokakarya, saya dan teman-teman Pekanbaru berangkat pulang ke Pekanbaru pada malam harinya.



Kunjungan singkat saya ke Payakumbuh cukup memberikan perspektif baru dalam memahami bagaimana sinema dan masyarakat hidup secara berdampingan. Saya selalu memahami bahwa distribusi sinema yang bagus adalah distribusi sinema yang masuk langsung dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, saya belum menemukan contoh empiris yang bisa saya lihat langsung oleh mata saya sendiri sebelum berkunjung ke acara Sinema Memang Unik. Hal ini dilihatkan langsung dari acara masak-masak. Kegiatan memasak ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan film dan sinema, tapi entah mengapa, ketika saya ikut berpartisipasi dalam kegiatan memasak ini, terasa saya dekat langsung dengan masyarakat. Dari kunjungan ke Payakumbuh ini, saya tidak memandang pemutaran film dalam lanskap urban; gedung bioskop, pemutaran alternatif dan penonton yang menyendiri, tapi bagaimana sinema langsung masuk dan berintegrasi ke nadi masyarakat; keseharian dan kegiatan masyarakat itu sendiri.



