Minggu, 14 Juli 2024. Lapangan Salo Limbukan.
Film-film pendek yang diputar di Lapangan Salo Limbukan sangat edukatif dan mempunyai banyak makna yang tersirat. Yaitu Maelo Pukek, berceritakan tentang tradisi ratik tolak bala merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat Pariaman terkhususnya yang tinggal di kawasan tepi laut. Praktik ini dilakukan dengan tujuan untuk menolak balak kepada masyarakat sekitar. Selanjutnya yaitu film Dedah Salamah yang mengisahkan tentang salamah yang sengaja mengurangi satu porsi lauk ikan patin untuk makan siang anak asuhnya. Hal ini menyebabkan terjadinya keributan antar sesama anak asuhnya. Lalu film dokumenter Neraka Di Telapak Kaki, para petani terpencil pada lanskap keindahan hamparan sawah lembah Napu di Poso yang harus berdampingan dengan wabah endemik mematikan yang bernama Schistosomiasis.


Setelah pemutaran film-film pendek, dilanjutkan dengan maota lamak bersama uda parjock dan mas uda. Uda parjock adalah seorang pegiat kopi dari kota Payakumbuh. Ia juga memiliki bengkel kopi “Parjock” yang dirintis sejak tahun 2014. Saat ini bengkel kopi parjock merupakan satu-satunya lokasi penerima jasa service mesin kopi di Sumatera Barat. Selanjutnya ada mas uda yang merupakan seorang fotografer dan guide wisata fotografer yang tergabung dalam Yayasan Fotografer Indonesia (YFI), ia juga pengurus APFI wilayah sumbar dan himpunan Pramuwisata Indonesia Sumbar, dan sekarang ia sedang mengembangkan kawasan wisata budaya di Rumah Gadang Salo dan juga menjadi pembina pokdarwis di Kenagarian Limbukan, Kota Payakumbuh.


Program pemutaran film seperti ini cukup menyenangkan jika dinikmati selama prosesnya. Banyak juga hal positif yang bisa didapat, yaitu bisa memupuk rasa kerjasama antar sesama dan membangun solidaritas dan kekompakan tim.
